Senin, 29 September 2008
Goa Sunyaragi, Wisata Kultural Bercorak Hindu, Islam, dan Eropa
INILAH taman indah lambang kebesaran masa silam. Meskipun telah terbenam perjalanan zaman, Goa Sunyaragi yang dibangun awal abad ke-18 oleh Kerajaan Islam Kasepuhan Cirebon masih memperlihatkan keindahannya sebagai maha karya arsitektur tempo dulu. Bangunan ini menggunakan bongkahan batu karang dan batu bata sebagai sandaran atau penyangga, dan pada puncak-puncak bangunan ada bangunan limasan dari bahan kayu.Goa Sunyaragi merupakan kompleks bangunan yang semua ruang-ruangnya dibentuk menyerupai goa. Atau lebih tepatnya merupakan kompleks goa-goa buatan yang dihubungkan oleh lorong atau jalan-jalan setapak yang berliku indah. Menuju ke tempat wisata yang terletak di Kota Cirebon (Jabar) ini tidaklah sulit. Dari terminal induk Kota Cirebon obyek wisata sejarah budaya ini, langsung naik angkutan kota sampai di goa ini.
Bangunan Sunyaragi sebagaimana diungkapkan peneliti dari Balai Arkeologi Bandung W Anwar Falah, sebenarnya merupakan kompleks bangunan taman sari yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan menyepi diri bagi keluarga Raja Kasepuhan Cirebon pada awal-awal abad ke-18. Sunyaragi terdiri dari dua suku kata sunya berarti sunyi, sepi,dan ragi berarti raga. Nama ini menurut sumber tertulis memang nama sebenarnya, atau nama asli pemberian pembuatnya.
Karena goa ini berfungsi ganda, yaitu sebagai tempat istirahat dan tempat menyepi, maka bentuk arsitekturnya pun mengarah pada dua fungsi itu. Berkesan mistis, tetapi juga indah, artistik, dan segar, dan sudah pasti dulunya penuh bunga-bunga. Atau dalam istilah dunia arkeologi ada dua sifat bangunan di Sunyaragi yaitu bangunan profan yang mencerminkan sebagai tempat kesenangan duniawi para Sultan Kasepuhan Cirebon. Sedang unsur bangunan yang kedua adalah bangunan bersifat sakral yang berkait dengan perilaku keagamaan para sultan.
Kesan profan itu bisa dilihat pada halaman utama. Begitu memasuki bangunan Sunyaragi yang menggambarkan adanya area pertamanan. Di halaman utama ini terdapat ruang-ruang kosong yang menyebar di sana-sini, dan hiasan-hisan batu karang yang variatif. Pintu gerbang masuk bangunan yang
awal pembuatannya diperkirakan pada masa pemerintahan Pangeran Aria Cirebon (1697-1768) ini dibuat bermotif bentar dari bahan terakota (bata). Hampir setiap pintu masuk di bangunan itu memakai bangunan berundak-undak (bentar) yang berciri Hinduistik. Ciri Hinduistik juga terlihat adanya bentuk makara (raksasa) di atas pintu dan jaladwara (talang air di sudut-sudut bangunan) dan bangunan kayu bentuk joglo.
Bangunan Sunyaragi juga diwarnai adanya unsur budaya Cina atau gaya Tiongkok kuno, seperti ukiran atau relief yang bermotif kembang kuningan, bunga persik, bunga matahari, serta teratai. Ciri khas Tiongkok kuno juga terlihat adanya tempelan di dinding-dinding bangunan piring-piring atau panil-panil keramik Cina. Yatna Satriana dan kawan-kawan dalam bukunya Kesejarahan dan Nilai Arsitektur Sunyaragi menyatakan, adanya unsur Cina dalam bangunan itu menjadi wajar, karena banyak orang-orang Cina yang memberikan bantuan atas pembangunan Sunyaragi. Pemberi bantuan ini adalah para pengikut Putri Cina istri Syekh Syarif Hidayattullah atau Sunan Gunungjati.
Sebagai bangunan yang dibangun Kerajaan Kasepuhan Cirebon yang memang menobatkan diri sebagai kerajaan Islam, sangat wajar unsur Islam juga melekat dalam kompleks bangunan seluas 1,5 hektar ini, khususnya pengaruh Timur Tengah. Di antaranya adanya relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap tempat shalat. Di samping itu juga ada bangunan-bangunan pawudlon (tempat wudu). Ada bangunan yang disebut bangsal Jinem yang jika dilihat dari seluruh penjuru mata angin mirip Ka'bah.
Bangunan Goa Arga Jumut memiliki unsur kuat khas arsitektur Eropa. Misalnya jendela bagian atas melengkung dan berjari-jari, pintunya tinggi, dan langit-langitnya terbuat dari kayu, dan lubang anginnya berbentuk lingkaran, dan tiang bangunan terbuat dari semen cor berbentuk kolom menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa.
Melihat Sunyaragi, wisatawan akan diajak masuk dalam suasana kultur Hindu, Islam, Cina, dan Eropa. Sebuah gambaran betapa luasnya pergaulan raja-raja Cirebon di masa itu. Kita akan menikmati sebuah silang kultur tanpa memperhatikan agama.
***
MESKIPUN bangunan ini masih tampak utuh, namun siapa yang mengawali pembangunan Sunyaragi dan kapan dimulainya pembangunan, masih belum jelas betul. Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung W Anwar Falah yang meneliti bangunan Sunyaragi mencatat adanya beberapa fakta. Berbagai data tertulis ataupun data lisan menyebutkan pembangunan Sunyaragi berkisar antara awal abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-18.
Babad Cirebon menerangkan pendirian Sunyaragi diperkirakan pada tahun Jawa 1666 atau 1741 Masehi. Babad Cirebon itu tidak menyebutkan proses pendirian Sunyaragi, namun menyebutkan masa pembangunan Sunyaragi pada pemerintahan Pangeran Aria Cirebon (1697-1768). Dari kumpulan arsip Hindia Belanda, sejarawan Moisbergen menyebutkan, Sunyaragi dibangun tahun 1703 oleh Pangeran Aria Cirebon yang dibantu arsitektur dari Cina. Keraton Kasepuhan juga berpendapat Sunyaragi dibangun Pangeran Aria Cirebon. Namun, pihak Keraton Kasepuhan menjelaskan berdasarkan candra sengkala dalam bentuk relief garuda dililit ular yang menempel di salah satu bangunan Sunyaragi, yang menunjuk angka tahun 1704. Dari sinilah Anwar Falah menyimpulkan pembangunan Sunyaragi dilakukan bertahap, mulai awal abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-18.
Menurut sumber dari Keraton Kasepuhan, bangunan Sunyaragi paling akhir digunakan oleh Sultan Sepuh Safiudin (1776-1784) sebagai tempat persembunyian untuk menyusun kekuatan melawan kolonial Belanda. Sultan Safiudin tewas dalam sebuah serangan yang dilakukan Belanda, dan bangunan Sunyaragi sempat rusak saat Kasepuhan dipegang Pangeran Adiwijaya pada tahun 1852.
Sunyaragi praktis masih utuh, sampai sekarang. Namun, peninggalan sejarah yang kini dijadikan obyek wisata di Cirebon ini sayangnya tak dirawat. Alang-alang tumbuh meninggi memenuhi jalan-jalan di seputar obyek wisata ini. Taman Sari Sunyaragi meskipun lebih besar dari Taman Sari Keraton Yogyakarta, tetapi sulit untuk renovasi total karena sebagian besar sudah menjadi permukiman penduduk. Sunyaragi masih utuh, masih layak dikembangkan seperti Candi Borobudur dan lingkungan sekitarnya, misalnya. Aset ini sayang jika disia-siakan. (Th Pudjo Widijanto)
Kompas/thomas pudjo widiyanto
MEGA MENDUNG - Pintu gerbang masuk dari sisi selatan bangunan Sunyaragi di samping dilengkapi pintu kayu, di atas pintu itu terdapat relung-relung yang membentuk relief megamendung, sebuah budaya khas Cina yang kini menjadi identitas karya relief atau batik Cirebon.
Kompas/thomas pudjo widiyanto
PUNCAK - Salah satu bangunan kompleks kuno Sunyaragi yang memiliki puncak bangunan joglo limasan, khas bangunan Jawa.
Kompas/thomas pudjo widiyanto
PERTITAAN - Bangunan Sunyaragi dilengkapi bangunan pertirtaan (kolam) yang juga terbuat dari terakota.
Kompas/thomas pudjo widiyanto
BENTAR - Pintu gerbang masuk ke bangunan Sunyaragi adalah bangunan berbentuk bentar terbuat dari terakota yang berciri khas Hindu.
http://www2.kompas.com
Nasib Gedung Kuno - Peran Serta Masyarakat Masih Sangat Kurang
Cirebon, Kompas - Hingga kini, pemeliharaan dan perawatan gedung- gedung tua yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau BCB terkendala masalah klasik, yakni keterbatasan anggaran.
Untuk itu, perlu partisipasi masyarakat luas guna menjaga kelestarian bangunan-bangunan yang didirikan ratusan tahun lalu itu. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Moch Hanafiah mengatakan, pelestarian BCB seharusnya tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat. “Kalau ada investor yang mau mengelola bangunan-bangunan bersejarah itu, kami akan menerima dengan tangan terbuka,” ujar Hanafiah, Kamis (20/4). Masalahnya, kata Hanafiah, investor pasti tidak mau hanya mengeluarkan uang, tetapi juga memiliki tujuan keuntungan, yakni dengan peningkatan jumlah pengunjung.
Padahal, untuk meningkatkan jumlah pengunjung perlu peningkatan daya tarik. Untuk itu, sangat mungkin diperlukan perubahan, yakni penambahan fasilitas atau pembongkaran di bagian tertentu. “Ini yang sulit, karena sebagai BCB, ia harus tetap seperti aslinya,” kata Hanafiah, Kamis (20/4).
Kepala Seksi Bina Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Adin Imanuddin mengatakan, dulu pernah ada sebuah hotel yang ingin ikut serta dalam membiayai perawatan sebuah keraton sebab keraton itu dimasukkan dalam paket wisatanya. Namun, upaya itu batal terlaksana.
Adin menambahkan, perubahan pada BCB untuk menarik jumlah pengunjung bisa dilaksanakan dengan metode zonasi. “Misalnya saja dibangun tempat bermain anak-anak yang letaknya di dekat BCB,” kata Adin. Sebagai kota tua, banyak bangunan tua yang berdiri di Kota Cirebon. Surat Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 mengenai Perlindungan dan Pelestarian Kawasan Bangunan Cagar Budaya di Kota Cirebon menetapkan 52 bangunan tua sebagai BCB.
Bangunan itu dibagi dalam tiga klasifikasi tingkat perlindungan, yakni sangat ketat, ketat, dan cukup ketat. Bangunan tua itu, antara lain Gedung Balaikota, Karesidenan, Masjid Al-Athyah, dan Klenteng Talang.
Masalahnya, untuk BCB sebanyak itu, tahun ini Pemerintah Kota Cirebon hanya menyediakan anggaran sekitar Rp 150 juta. “Ini pun sudah meningkat 150 persen dibanding tahun lalu yang hanya Rp 60 juta,” ujar Adin.
“Untuk bangunan yang masih digunakan, biaya pemeliharaan dan perawatan kita serahkan pada pemiliknya. Untuk bangunan yang tidak digunakan, ada biaya meski tidak bisa menutup keseluruhan yang diperlukan,” kata Adin.(LSD)
Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006
Makam Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari sembilan orang penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Kehidupannya selain sebagai pemimpin spriritual, sufi, mubaligh dan dai pada jamannya juga sebagai pemimpin rakyat karena beliau menjadi raja di Kasultanan Cirebon, bahkan sebagai sultan pertama Kasultanan Cirebon yang semula bernama Keraton Pakungwati.
Memasuki kompleks pemakaman anda akan melihat Balemangu Majapahit yang berbentuk bale-bale berundak yang merupakan hadiah dari Demak sewaktu perkawinan Sunan Gunung Djati dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari Ki Ageng Tepasan, salah seorang pembesar Majapahit.
Masuk lebih kedalam anda akan melihat Balemangu Padjadjaran, sebuah bale-bale besar hadiah dari Prabu Siliwangi sebagai tanda penghargaan pada waktu penobatan Syarif Hidayatullah sebagai Sultan Kasultanan Pakungwati (cikal bakal kraton di Cirebon).
Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di bukit Gunung Sembung hanya boleh dimasuki oleh keluarga Kraton sebagai keturunannya selain petugas harian yang merawat sebagai Juru Kunci-nya. Selain dari orang-orang yang disebutkan itu tidak ada yang diperkenankan untuk memasuki makam Sunan Gunung Jati.
Alasannya antara lain adalah begitu banyaknya benda-benda berharga yang perlu dijaga seperti keramik-keramik atau benda-benda porselen lainnya yang menempel ditembok-tembok dan guci-guci yang dipajang sepanjang jalan makam. Keramik-keramik yang menempel ditembok bangunan makam konon dibawa oleh istri Sunan Gunung Djati yang berasal dari Cina, yaitu Putri Ong Tien.
Banyak keramik yang masih sangat baik kondisinya, warna dan design-nya sangat menarik. Sehingga dikhawatirkan apabila pengunjung bebas keluar-masuk seperti pada makam-makam wali lainnya maka barang-barang itu ada kemungkinan hilang atau rusak.
Ada 9 pintu yang terdapat dalam Makam Sunan Gunung Jati, yaitu 1)Pintu Gapura, 2)Pintu Krapyak, 3)Pintu Pasujudan, 4)Pintu Ratnakomala, 5)Pintu Jinem, 6)Pintu Rararoga, 7)Pintu Kaca, 8)Pintu Bacem dan 9)Pintu Teratai. Para pengunjung atau peziarah hanya diperkenankan masuk sampai di pintu ke-5 saja.
Para peziarah di Makam Sunan Gunung Jati hanya diperkenankan sampai dibatas pintu serambi muka yang pada waktu-waktu tertentu dibuka dan dijaga selama beberapa menit kalau-kalau ada yang ingin menerobos masuk. Dari pintu yang diberi nama Selamat Tangkep itu terlihat puluhan anak tangga menuju Makam Sunan Gunung Jati.
Para peziarah umum diharuskan masuk melalui gapura sebelah Timur dan langsung masuk pintu serambi muka untuk berpamit kepada salah seorang Juru Kunci yang bertugas. Setelah diijinkan maka peziarah umum dapat menuju ke pintu barat yaitu ruang depan Pintu Pasujudan.
Uniknya didalam kompleks makam Sunan Gunung Jati terdapat kompleks makam warga Tionghoa dibagian barat serambi muka yang dibatasi oleh pintu yang bernama Pintu Mergu. Lokasinya disendirikan dengan alasan agar peziarah yang memiliki ritual ziarah tersendiri seperti warga Tionghoa tidak akan terganggu dengan ritual ziarah pengunjung makam.
Makam Sunan Gunung Jati dibersihkan tiga kali seminggu dan selalu diperbaharui dengan rangkaian bunga segar oleh Juru Kunci yang bertugas. Penggantian bunga dilakukan setiap hari Senin, Kamis dan Jumat. Pada hari Senin dan Kamis petugas akan masuk dari pintu yang disebut dapur Pesambangan, sedangkan pada hari Jumat petugas akan masuk dari pintu tempat masuknya peziarah disiang hari.
Jumlah petugas Makam Sunan Gunung Jati seluruhnya ada 108 orang yang terbagi dalam 9 kelompok masing-masing 12 orang berjaga-jaga secara bergiliran selama 15 hari yang diketuai oleh seorang Bekel Sepuh dan Bekel Anom (merupakan tambahan setelah Kraton Cirebon dipecah menjadi Kraton Kasepuhan dan Kanoman). Mereka yang mengemban tugas tersebut umumnya karena meneruskan tugas dari ayah atau saudara yang tidak mempunyai anak atau bisa juga karena mendapat kepercayaan dari yang berhak. Pada saat mereka diberi amanat mengemban tugas itupun ada serangkaian upacara atau selametan yang harus dilakukan oleh masing-masing orang. Seluruh petugas makam termasuk para Bekel dipimpin oleh seorang Jeneng yang diangkat oleh Sultan.
Adapun riwayat dibalik jumlah 108 berawal dari Pemerintahan Sunan Gunung Djati di Kraton Pakungwati yang pada suatu hari menangkap perahu yang terdampar dengan seluruh penumpang berjumlah 108 orang seluruhnya berasal dari Keling (Kalingga) dan berada dibawah pimpinan Adipati Keling. Orang-orang Keling ini kemudian menyerahkan diri dan mengabdi kepada Sunan Gunung Jati dan dipercaya untuk menetap dan menjaga daerah sekitar pemakaman sampai ke anak cucu. Sebagian masyarakat yang bermukim disekitar kompleks makam adalah keturunan orang-orang Keling tersebut. Oleh karena itu ke-12 orang yang bertugas tersebut mengemban tugas sesuai dengan jenjangnya sebagai awak perahu nelayan seperti juru mudi, pejangkaran dan lain sebagainya.
Selain Sultan dan Juru Kunci yang ditunjuk maka tidak ada lagi orang yang diperkenankan masuk ke makam Sunan Gunung Djati. Konon di sekitar makam Sunan Gunung Djati terdapat pasir Malela yang dibawa langsung dari Mekkah oleh Pangeran Cakrabuana. Pasir ini tidak diperbolehkan dibawa keluar dari kompleks pemakaman. Para Juru Kunci sendiri diharuskan membersihkan kaki-nya sebelum dan sesudah dari makam agar tidak ada pasir yang terbawa keluar. Pelarangan ini sesuai dengan amanat dari Pangeran Cakrabuana sendiri, mungkin karena pada jaman dahulu upaya untuk membawa Pasir Malela dari Mekkah ke kompleks pemakaman teramat berat dan sulit.
Tak jauh dari bangunan makam terdapat masjid yang diberi nama Masjid Sang Saka Ratu atau Dok Jumeneng yang konon dulunya digunakan oleh orang-orang Keling yang pernah memberontak pada Sunan Gunung Djati. Didalam masjid kita bisa melihat Al-Quran yang berusia ratusan tahun dan dibuat dengan tulisan tangan (bukan cetakan mesin).
Ada beberapa sumur disekitar bangunan masjid, yaitu Sumur Kemulyaan, Sumur Djati, Sumur Kanoman dan Sumur Kasepuhan. Masjid ini sendiri memiliki 12 orang Kaum yang pengangkatannya melalui prosedur Kesultanan dengan segala tata cara dan tradisi lama yang masih dijalankan. Ke-12 orang tersebut terdiri dari 5 orang Pemelihara, 4 orang Muadzin, 3 orang Khotib ditambah dengan seorang penghulu atau Imam. Kecuali penghulu mereka bertugas secara bergilir setiap minggu dengan formasi 1 orang pemelihara, 1 orang Muadzin dan 1 orang Khotib.
Ada lagi legenda para wali yang berhubungan dengan Sumur Jalatunda yang berasal dari jala yang ditinggalkan Sunan Kalijaga saat dirinya diperintahkan mencari sumber mata air untuk berwudhu-nya para wali yang pada saat itu sedang mengadakan pertemuan. Sumur Jalatunda ini dikenal dengan Zam-zam-nya Cirebon.
Mengunjungi kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati sebetulnya tidak terlalu sulit. Lokasi-nya tidak jauh dari kota Cirebon. Jalan masuknya juga bisa dilalui oleh mobil dan sudah tersedia lahan parkir yang cukup luas.
Yang sangat disayangkan adalah banyaknya penduduk setempat yang meminta donasi tidak resmi kepada pengunjung atau peziarah yang datang ke makam. Dari mereka yang meminta dengan suka rela sampai dengan mereka yang menggebrak meja tempat diletakkannya kotak donasi untuk menakut-nakuti pengunjung apabila mereka menolak untuk membayar. Yang meminta donasi tidak hanya orang dewasa, melainkan anak-anak balita sampai kaum tua renta juga setia mengikuti bahkan ada yang sambil menarik-narik baju pengunjung. Macam-macam alasan yang digunakan, dari donasi untuk pemeliharaan makam sampai sumbangan sebagai ‘pembuka pintu’. Kalau anda datang bersama dengan rombongan peziarah, bersiaplah menghadapi puluhan peminta sumbangan yang sudah berbaris panjang dari parkiran anda masuk sampai ke pintu gerbang peziarah.
Sangat mengesalkan sebetulnya. Pemandu memberitahu agar kami ‘jangan memulai’ memberikan donasi setiap kali diminta karena hanya akan membuat peminta donasi lain akan memburu. Walaupun kami sudah berusaha membatasi jumlah donasi yang kami keluarkan dengan terus menerus mengatakan “tidak” tetap saja kami harus merogoh kantong beberapa kali.
Upaya menertibkan konon sudah pernah ada. Sultan pernah memerintahkan mereka untuk berhenti meminta donasi tidak resmi tersebut, namun seminggu-dua minggu kemudian timbul kembali.
Alangkah baiknya apabila pihak Kraton yang berwenang atau pemerintah daerah mulai memikirkan cara untuk menertibkan mereka karena bisa jadi akan merusak citra tempat pemakaman Sunan Gunung Jati ini dan umat muslim pada umumnya.
Aktivitas meminta-minta dengan paksa yang dilakukan kaum dewasa dan orang tua akan memberikan contoh tidak baik bagi anak kecil warga sekitar. Tak heran apabila mereka nantinya juga menjadi peminta-minta. Walaupun Sunan Gunung Jati pernah bertutur “Ingsun titip tajug lan fakir-miskin” yang artinya “Aku titipkan masjid/musholla dan fakir miskin” tetapi saya yakin bukan seperti inilah perwujudannya.
Penulis : Ninuk.A
Lokasi : Astana, Cirebon Utara, Kota. Cirebon
Fotografer : Silhouette
Sumber : Navigasi.Net
Belajar Lewat Bangunan Bersejarah
Indonesia banyak sekali "menyimpan" bangunan kuno dan benda-benda purbakala (heritage) berupa peninggalan yang bersejarah sebagai warisan dari nenek moyang kita. Heritage berupa bangunan banyak sekali bertebaran di tanah air. Keberadaan benda-benda bersejarah tersebut tidak terlepas dari perjalanan sejarah. Meskipun wujudnya kini tidak seindah dan semegah dulu lagi, tetapi obyek-obyek tersebut layak untuk dikenal. Bangunan-bangunan tersebut saat ini ada yang sedang direnovasi, ada yang direkonstruksi dan ada yang direvitalisasi. .
Banyak juga gedung bersejarah yang menjadi cagar budaya ini tergusur oleh bangunan komersial. Satu persatu bangunan bersejarah tersebut hilang dan berubah fungsi, ada yang berubah menjadi kompleks pertokoan, apartemen dan perumahan mewah. Padahal bangunan-bangunan yang punah tersebut mempunyai nilai arsitektur yang tinggi, di samping nilai historis yang tinggi. Hal ini menandakan kesadaran masyarakat akan arti penting benda-benda bersejarah masih kurang di samping kebijakan yang tidak tepat.
Tumbuhnya kesadaran diri untuk menjaga dan mempelajari benda bersejarah dengan arsitektur yang tinggi ini akan membuat kita dapat lebih memahami budaya para pendahulu untuk kepentingan masa depan. Biasanya, bangunan-bangunan tua tersebut berada di kawasan yang dinamakan kota lama. Mungkin nama tersebut mengacu pada bangunan-bangunannya yang berumur tua dan mempunyai sejarah yang panjang.
Menurut Wali Kota Surakarta, Joko Widodo, kecintaan pada heritage itu harusnya dimulai dari masa anak-anak. Anak-anak hendaknya sering dibawa ke keraton, museum, dan heritage kota. Dengan demikian mereka tahu sejarah dan falsafah benda-benda yang dilihat. Mungkin kepada anak-anak SD sampai SMU ditugaskan membuat tulisan tentang benda-benda yang dilihatnya di museum. Kemudian diadakan diskusi sehingga tidak berhenti kepada bangunan fisiknya saja.
Berwisata dengan mengunjungi gedung-gedung tua tersebut balk itu museum maupun gedung-gedung tua bersejarah tersebut sebenarnya sangat mengasyikkan. Di Medan misalnya kita dapat menyaksikan Istana Maimun, Mesjid Raya Medan dan Rumah Tjong A Fie. Istana Maimun yang memiliki arsitektur khas Melayu ini didominasi oleh warna kuning. Bangunan yang dibangun pada tahun 1888 ini merupakan istana sultan-sultan Deli.
Hingga kini keluarga sultan masih mendiami sebagian sisi bangunan. Istana yang memiliki tiang-tiang besar yang melengkung di bagian atasnya menyerupai bunga. Di dalam bangunan ini terdapat perabotan tua peninggalan Belanda Masjid Raya Medan, mempunyai bentuk yang mengesankan dengan kubah-kubah berwarna hitam, Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur campuran yang mengandung unsur Timur Tengah, India dan Spanyol. Rumah Tjong A Fie, sebuah rumah bergaya Cina dengan ornamen dan hiasan yang indah.
Di Bukittinggi ada Jam Gadang dan Benteng Fort de Kock. Jam Gadang adalah ciri utama Bukittinggi. Karena itu kota ini disebut juga sebagai Kota Jam Gadang. Menara jam dengan miniatur rumah Minang di puncaknya ini berada tepat di jantung kota. Benteng Fort de Kock adalah benteng peninggalan Belanda yang dibangun ketika perang melawan kaum Paderi. Benteng ini dibangun pada tahun 1825.
Di Riau terdapat Istana Asserayah el Hasyimah yang dibangun pada tahun 1889 oleh Sultan Siak yang ke-11. Istana ini memiliki bentuk pintu-pintu yang melengkung. Di Bengkulu terdapat Benteng Marlborough, sebuah benteng berbentuk segi empat. Benteng ini dulunya menjadi pusat kedudukan tentara Inggris di Bengkulu. Saat ini benteng tersebut dijadikan museum.
Di Cirebon, Jawa Barat terdapat Kraton Kasepuhan yang dibangun pada tahun 1527. Kraton ini memiliki gaya arsitektur perpaduan antara Sunda, Jawa, Islam, Cina dan Belanda.
Di kota Semarang kita dapat menyaksikan diantaranya Gereja Blenduk, Gedung Lawang Sewu dan Kelenteng Sam Poo Kong. Gereja Blenduk, yang masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Kristen masih terawat dengan baik. Bangunan ini berbentuk segi delapan beraturan. Lawang Sewu sebuah bangunan tua yang mempunyai banyak pintu. Gedung bekas Kantor Pusat Perkeretaapian Hindia Belanda ini merupakan bangunan berarsitektur modern pertama di Indonesia. Menyusuri lorong-lorong di dalamnya seperti menyusuri ke alam lampau. Kelenteng Sam Poo Kong yang biasa juga disebut dengan Gedung Batu, merupakan rumah ibadat. Bangunan ini didirikan untuk menghormati seorang laksamana asal Cina bernama Cheng Ho. Di kelenteng yang didominasi warna merah ini banyak terdapat relief-relief yang menggambarkan perjalanan hidup Cheng Ho. Semua bagian bangunan di dalam kelenteng menerapkan arsitektur Cina dengan dominasi warna merah.
Jakarta yang bulan Juni ini merayakan ulang tahunnya mempunyai banyak bangunan bersejarah seperti Museum Gajah. Di museum ini tersimpan banyak koleksi benda bernilai budaya tinggi. Salah satu koleksinya adalah benda-benda peninggalan zaman prasejarah seperti prasasti dan senjata di zaman purbakala.
Museum Sejarah Jakarta, berfungsi sebagai pusat pemerintahan VOC yang mengatur semua administrasi pemerintahan kota Batavia. Berbagai obyek dapat kita saksikan di museum ini antara lain benda-benda bersejarah kota Jakarta dan hasil penggalian arkeologi di Jakarta. Museum Tekstil menyimpan kurang lebih 1.000 koleksi batik dan tenun dari seluruh pelosok nusantara. Koleksi batik dan tenun Indonesia ini juga dilengkapi dengan mesin peralatannya yang sudah berumur lebih dari 200 tahun.
Wisata mengunjungi heritage ini memang kurang populer di kalangan masyarakat. Namun, dengan mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah ini banyak manfaat yang diperoleh seperti memperluas wawasan dan lebih memahami kehidupan nenek moyang kita.
Sumber: Majalah ASRI
Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu
Masjid itu didirikan seiring dengan berdirinya Keraton Kasepuhan. Tak heran jarak antara masjid dan keraton hanya terpisah oleh alun-alun kecil seukuran lapangan bola. Menurut sejumlah pengusur masjid, keaslian masjid masih terjaga. Atap menggunakan genteng warna hitam tanah. Sementara dinding masjid menggunakan bata merah setebal 40 cm.
"Bangunan lama masjid hanya di bagian dalam ukuran 20x20 m," kata Salehudin (57), salah satu pengurus masjid Kasepuhan kepada detikcom, Selasa (9/9/2008). Sulit diterima bila bagian inti masjid merupkan tempat ibadah. Sebab, kokohnya dinding lebih menyiratkan benteng kecil tempat persembunyian.
Untuk memasukinya, hanya ada satu pintu utama yang berukuran normal. Selebihnya, pintu samping kiri dan kanan sangat mungil, hanya berukuran 1 m x 80 cm. Sehingga, perlu merunduk untuk memasuki bagian inti masjid. "Saat penjajah kolonial masih bercokol, masjid ini memang sempat menjadi salah satu persembunyian," imbuh Salehudin.
Ada berbagai versi mengenai awal dibangunnya masjid ini. Di antaranya, menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, masjid tersebut dibangun pada "waspada panembahe yuganing ratu". Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, dibangun pada 1489 Masehi. Pemimpin proyeknya Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit.
Sunan Kalijaga tidak sendiri, ia dibantu Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. Sepat adalah tawanan perang Demak-Majapahit, yang diboyong Sunan Gunung Jati, salah satu senopati Demak. Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Luasnya 400 meter persegi. Tempat pengimaman menghadap ke barat, miring 30 derajat arah barat laut. Arah ini diyakini warga sekitar masjid tepat menuju Masjidil Haram, Mekkah.
Masjid terbagi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli. Lantainya dari terakota tanah atau tembikar, berukuran 30 x 30 sentimeter. Serambi bagian selatan disebut bangsal prabayaksa, dalam bahasa Jawa kuno berarti ruang pertemuan.
Kini, setelah berabad-abad ditinggalkan sang pendiri, aura kebasaran masa lalu masih tercium kental. Kombinasi antara arsitektur masa lalu, pulasan warna yang berkarakter dan tata wilayah yang khas menunjukan daerah itu sebagai pusat kota pada masa lalu. Selebihnya, masjid di Jl Jagasatru tersebut sangat sejuk, teduh dan cocok untuk mendekatkan diri pada ilahi.
(Ari/tbs)
http://ramadan.detik.com
PELESTARIAN BANGUNAN KUNO
Antariksa
KELENTENG berusia 500 tahun di Cirebon terancam kelestariannya. Keindahan seni bangunannya yang khas, perpaduan antara ketrampilan para tukang setempat dan pimpinan pendirinya Muhammad Syafi’I (Tan Sam Tjay) di tahun 1450, sedang dalam proses penghancuran, demi sebuah rumah duka. Kemungkinan besar segera tinggal dalam kenangan (Kompas, 14 Oktober 1987). Nasib juga menimpa bangunan kuno yang digunakan sebagai asrama polisi di Jalan Ngemplak Surabaya, mulai dibongkar dan diratakan dengan tanah (Suara Indonesia, 8 Juni 1988).
Tentunya masih banyak lagi kejadian semacam itu yang terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia, yang banyak meninggalkan warisan budaya bangunan kunonya. Kejadian tersebut terasa menyakitkan karena makin lama nilai sejarah sebuah kota akan terhapuskan oleh ulah sebuah perencanaan yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat banyak. Tak lain tempat tersebut dibangun fasilitas umum berupa pusat perbelanjaan (super market).
Usaha pelestarian juga sudah dimulai untuk bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah besar. Di Jakarta seperti bangunan Masjid (Jami’ Al Mansyur, Jami’ Annawar, Jami’ Al Anshor, Jami’ Al Annawir, dan sebagainya), bangunan Gereja (Emmanuel, Sion, Tugu, dan sebagainya), bangunan Museum (Keramik dan Seni Rupa, Tekstil, Bahari, dan sebagainya). Yogyakarta dengan kawasan Keraton dan Benteng Vredenburg yang dibangun tahun 1701 sudah dipugar saat ini, kemudian Benteng Vastenburg di Surakarta, dan tak ketinggalan Cilacap menguak dengan diketemukannya Benteng Pendem bekas peninggalan Portugis mulai dipugar pula.
Kota Bandung yang penuh peninggalan arsitektur kolonial juga memberikan andil terbanyak di dalam pelestarian bangunan kunonya. Di sini dapat terlihat berbagai bentuk gaya arsitektur Belanda, Cina, Islam, bahkan sampai pada perpaduan Indonesia dan Eropa. Ini merupakan salah satu kekayaan yang tak terhingga nilainya. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial seperti, kantor, bank, gereja, rumah tinggal, dan sebagainya. Semua merupakan karya arsitek Belanda yang muncul sekitar tahun 1920-an dikembangkan oleh Ir. Macline Pont, Ir. Thomas Karsten, Prof. CPW Schoemaker, J. Berger, Ed Cuypers, dan masih banyak lagi. Hanya Prof. CPW Schoemaker yang menonjolkan gaya Art Deco (gaya seni yang berkecamuk di Eropa sehabis Perang Dunia I, tahun 1920-an). Arsitek lain seperti J. Berger (gedung Sate), Macline Pont (gedung ITB), dan Ed Cuypers (Bank Indonesia) ketiganya mampu menampilkan gaya arsitektur untuk daerah tropis. Gaya khas ini mengacu pada perpaduan lokal-tradisional Indonesia dengan teknik konstruksi Barat, sehingga dijuluki Prof. Schoemaker sebagai Indo-Europeesche Architectuurstijl.
Memang sangat menarik apa yang berkembang pada saat ini, yaitu tentang suatu kesadaran akan sebuah warisan budaya. Pelestarian budaya terhadap bangunan kuno sudah menjadi kesadaran masyarakat. Apalagi pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akhir Februari 1988 lalu mengeluarkan Keputusan No. 0128/M/1988 mengenai perlindungan sejumlah gedung sebagai cagar budaya. Berarti dengan adanya keputusan tersebut tentunya akan lebih memperkuat Monumenten Ordonansi Stab 1 No. 238 Tahun 1931.
Kalau ditelaah mempunyai pengertian yang sangat luas, tidak sekedar sebuah pelestarian, tetapi dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan serta pengembangan ilmu pengetahuan di dalam membina bangsa. Dengan demikian secara tegas gedung-gedung yang termasuk cagar budaya itu tidak boleh dibongkar atau dirubah bentuknya, baik “living monument” (keraton, rumah adat, dan bangunan bersejarah) maupun “dead monument” candi-candi), tanpa seijin Dirjen Kebudayaan dalam hal ini Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Apabila kita bertolak dari berbagai manfaat dari nilai-nilai kehidupan masyarakat lampau yang terkandung dalam peninggalan sejarah bangunan maupun gedung kuno, maka suatu keharusan untuk memlihara dan melindungi terhadapnya. Dengan demikian aspek yang dikandung dalam peninggalan sejarah dari tanah air kita, dapat digambarkan atau diungkapkan kembali. Secara sederhana seperti dikatakan Kempers: “as the systimatic study of antiqueties as a means of reconstructing the past” (Herstel in Eigenwarde Monumentenzorg in Indonesie, Dewalburg Pers Zutphen, 1978).
Wajah Kota Berbudaya
Proses perjalanan sejarah telah membawa masing-masing kota menjadi keadaan yang sekarang ini, lalu bagaimana dengan kota Malang? Apakah nuansa yang khas masih ada, seperti kawasan alun-alun dengan kantor, bank, masjid, gereja dan penjara wanitanya. Atau kawasan Ijen dengan lingkungan perumahan yang khas peninggalan kolonial Belanda, ternyata tidak dapat bertahan lama. Perubahan terjadi begitu cepat tanpa terkendali, terutama bentuk arsitekturnya yang justru menjadi ciri khas kota Malang. Di sini penentu kebijakan mempunyai peran besar terhadap masalah ini, perlu adanya peraturan yang memberlakukan perubahan maupun pemugaran bangunan gedung maupun rumah tinggal, yang terdapat dalam kawasan yang dilindungi.
Kemudian untuk Penjara Wanita yang terdapat di alun-alun Malang dan sudah tidak berfungsi lagi, sebaiknya dapat dipertahankan dan dipugar lagi. Melalui upaya pelestarian ini, banyak manfaat yang akan didapat pertama menjadikan daya tarik wisatawan untuk mengunjungi dan melihatnya. Kedua sebagai sarana penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan terutama mengenai sejarah dan bangunannya, ketiga rasa memiliki dari perjalanan sejarah bangsanya.
Seperti diungkapkan oleh JJA. Woorsaae seorang ahli hukum dari Universitas Kopenhagen Denmark, pada pertengahan abad ke-19 mengatakan, “bangsa besar adalah bangsa yang tidak hanya melihat masa kini dan masa mendatang, tetapi mau berpaling ke masa lampau untuk menyimak perjalanan yang telah dilaluinya.” Bahkan filosuf Aguste Comte, mengatakan: “Savoir Pour Prevoir”, yang diartikan sebagai, mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. Memang perlu kita sadari bahwa hasil pelestarian akan memberikan gambaran tentang perjalanan suatu bangsa, hakekat apa yang tersandang dari perjalanan itu, dan tentu saja identitas budaya bangsanya. Hal ini dimaksud agar wajah kota kelak dapat menceriterakan dan menyajikan kepada anak cucu kita, mengenai perjalanan sejarah bangsanya melalui bangunan atau gedungnya.
Kota Malang mungkin masih punya ciri lain dibanding dengan kota lainnya. Di sini orang akan menemukan bentuk dan gaya arsitektur, terutama arsitektur Belanda dengan sedikit bumbu perpaduan antara Indonesia dengan Eropa. Kekayaan ini sebenarnya merupakan kebanggaan yang tak ternilai harganya. Masih banyak sisa bangunan yang masih dapat dijadikan harga diri kota Malang, seperti kawasan Ijen dengan permukiman bergaya arsitektur kolonial membujur di sepanjang kiri dan kanan jalan. Permukiman di sekitar kawasan tersebut juga masih terdapat beberapa bangunan yang berciri khas arsitektur kolonial.
Namun tidak banyak disadari, oleh warga masyarakat maupun penentu kebijakan, sehingga bangunan-bangunan kuno dan bahkan antik banyak dianggap ketinggalan jaman yang sewaktu-waktu dapat terancam kehadirannya. Bangunan rumah tinggal yang berada di kawasan Ijen misalnya, perlahan tapi pasti mulai berubah karena selera pemiliknya. Atau karena dorongan kebutuhan untuk membangun yang terus meningkat. Perubahan yang terjadi harus dapat dilihat sejauh mana batas kewajarannya, apa hanya menata kembali wujud fisik luarnya, atau merubah bentuk dan strukturnya. Masalah inilah yang harus dipertanyakan, sejauh mana pemilik rumah tinggal tersebut diperbolehkan untuk mempertahankan atau melestarikan rumahnya. Semestinya tidak hanya bangunan kuno saja yang perlu untuk dilestarikan, tetapi juga wilayah kota yang dipertahankan sebagai cagar budaya, karena peninggalan-peninggalan arkeologi yang tersisa masih cukup banyak.
Kehendak untuk membangun dan memperluas kota sebaiknya dipertimbangkan masak-masak, karena dampak akan lingkungan pasti akan terjadi jika kita tidak hati-hati. Jika masalah di atas tidak dipikirkan secara benar, persoalan-persoalan semacam itu masih akan terus terasa, malah makin lama akan makin parah jika tidak direalisir secara bersama, antara penentu kebijakan kota dan masyarakat.
Keterlibatan dan peran serta masyarakat kota perlu untuk diikutsertakan dalam pelestarian ini, baik perencanaan, pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Dengan demikian, tangung jawab akan rasa memiliki kota dan bangunan dapat dipikul bersama, dan akhirnya kota akan menjadi tumpuan hidup bersama. Seperti diungkapkan oleh kritikus Peter Blake, bahwa arsitektur masa depan adalah kota.
Sudah selayaknya kita harus realistis terhadap perkembangan sejarah sebuah kota yang di dalamnya juga terkandung masyarakat dan budayanya. Atau kita juga harus belajar dari kota lain yang sedang giat melaksanakan pelestarian. Kedua hal di atas dapat dijadikan tonggak, sebagai awal pemikiran untuk pengetrapan pelaksanaan nantinya. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kebijakan mengenai perlindungan dan pelestarian bangunan kuno maupun kawasan yang dilindungi kan terdesk oleh lajunya pembangunan kota, terutama pembangunan fisik kota.
Untuk itu perlu juga ditawarkan alternatif lain sebagai bentuk pemecahan yang sangat berkaitan dengan lajunya perkembangan tadi, yaitu sektor pariwisata. Diharapkan dengan sektor ini, potensi kota akan terlihat dan tentu saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Untuk melihat satu warisan budaya berupa bangunan kuno atau lingkungan mas lampau.Sebenarnya kota-kota di Indonesia saat ini sedang sibuk mencari identitas dirinya untuk meningkatkan martabatnya dipasaran pariwista. Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan kota-kota lain sudah memiliki hal tersebut. Tak dapat disangkal lagi arsitektur yang dimiliki oleh kota-kota itu, tanpa disadari sudah lama menjadi investasi yang justru belum banyak dimanfaatkan.
Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia Tanggal 23 Juli 1988
http://antariksaarticle.blogspot.com
Lima Abad Kraton Kanoman
Segmen I
indosiar.com - Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad di setiap daerah di indonesia berbeda - beda sesuai dengan tradisi. Di Kraton Kanoman - Cirebon - Jawa Barat, ada tradisi unik merayakan mauled, konon sejak lima abad lalu, ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran agama Islam.
Perayaan ini juga menjadi perlambang kebesaraan Kraton ini di Masa lalu. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon - kota yang berada di pesisir pantai utara. Kebesaran Islam Masih terasa ketika kita meMasuki kota yang berpenduduk sekitar tiga Ratus jiwa ini.
Sunan Gunung jadilah orang yang bertanggung Jawab menyebarkan agam Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok dia. Setiap hari ribuan orang berziarah ke makamnya yang berusia enam abad. Mereka yakin, ruh-nya tetap memberikan berkah.
Sunan Gunung Jati juga meninggalkan jejak -nya yang hingga kini Masih berdiri tegak, jejak itu bernama Kraton Kanoman. Barangkali sebagian besar orang tidak menyadari, bahwa bangunan ini dahulu sangat berpengaruh dan berkuasa.
Namun jaman telah mengubah Kraton yang kini tenggelam dalam hiruk pikuk kota dan pasar yang semrawut. Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga dan abdi dalem, atau pembantu setia.
Sang Ratu, bernama Arimbi Nurtina, istri dari raja Muhammad Emiruddin menerima kami dengan baik. Ia sangat dihormati, karena Masih keturunan Sunan Gunung Jati.
Kraton adalah komplek luas, yang terdiri dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luas hampri lima kali lapangan sepak bola ini.
Di bangsal ini, dua anak raja Pajajaran, Prabu Siliwangi Ratu Mas Rarasantang dan pangeran Cakra Buwana belajar agama Islam. Dari Ratu Mas Rarasantang ini lahirlah Sunan Gunung Jati yang kemudian membangun Kraton dan menjadikannya pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Sebagian barang - barang yang digunakan sang Sunan Masih ada, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang Masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burok, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj.
Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan dibagian tengah Kraton terdapat komplek bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.
Ada tiga pintu Masuk kedalam bangunan ini. Di sinilah raja biasa menyaksikan acara-acara tertentu yang resmi. Dan pementasan gamelan pusaka dilakukan di tempat ini atau bangsal selatan, seperti pada perayaan Maulid nanti.
Maulid memang menjadi hari istimewa, karena banyak bagian - bagian di Kraton yang tertutup rapat, terbuka untuk umum. seperti pintu besar yang bernama Lawang Siblawong. Dan dalam ritual Panjang Jimat nanti, pintu ini akan menjadi jalan menuju keselamatan, yakni Masjid Agung Kraton Kanoman.
Segmen II
Dua hari menjelang perayaan Maulid, keluarga keraton Kanoman semakin sibuk. Maulid adalah hajatan besar setiap tahun yang melibatkan banyak orang, termasuk masyarakat umum di luar keratin. Sehingga makanan pun disediakan dalam jumlah besar.
Mereka memotong dua ekor kerbau. Dagingnya untuk hidangan para tamu dan bagian kepala, mereka tanam di dua penjuru gerbang keratin. Setiap Maulid, keluarga dan kerabat Kraton juga harus mencuci benda - benda pusaka yang usianya ratusan tahun.
Benda-benda ini dihadiahkan dinasti Ming kepada permasuri kesultanan Cirebon sekitar abad ke lima belas. Sebagian adalah alat kecantikan untuk wanita yang bentuknya mirip jantung dan hati.
Kaum wanita yang boleh mencucinya, itupun hanya mereka yang sedang tidak datang bulan. Kaum pria, tugas mengambil air dari sumur yang jumlahnya ada tujuh di sekitar Kraton.
Mereka menghormati benda-benda yang usianya lebih tua dari mereka ini. Sehingga tidak satupun dari mereka ada yang bercakap-cakap atau bercanda. Maulid benar-benar membuat Kraton Cirebon lebih hidup, baik siang maupun malam. Ini sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu.
Mereka memasak dua jenis makanan. Untuk ritual dan warga biasa. Juru masak ritual menggunakan sepuluh wajan besar untuk memasak nasi kuning. Mereka memasaknya dengan hati - hati dan sabar, karena nasi ini adalah lambang berkah.
Sebaliknya, kelompok pemasak ini memasak makanan yang akan dibagikan kepada warga. Ribuan warga berjubel memenuhi keraton ini. Mereka berdatangan dari berbagai daerah di Jawa dan wilayah lain di Indonesia. Sebagian ada yang sudah berhari - hari di dengan bekal seadanya.
Mereka masih mengormati keraton Cirebon. Karena Sunan Gunung Jati salah satu Wali Songo, menyebarkan agama Islam di Jawa dari keraton ini.
Sebagian lagi percaya dengan mitos - mitos dan berharap berkah dari Kraton. Seperti mandi di sumur ini misalnya. Air -nya mereka percaya akan memberikan berkah.
Sebagian datang bersama keluarga. Seperti ibu ini yang datang dari Kroya - Jakarta bersama keluarganya. Ia ingin menjadi TKW..., jadi tidak ada salahnya mandi di tempat ini.
Malam harinya..., suara gamelan mengalun dan mereka memainkannya hanya lima kali dalam semalam. Ketika subuh hingga waktunya sholat isa. Kaum wanita - nya mempersiapkan mungkus Shalawat, bungkusan daun pisang yang berisi uang logam dan diikat tali bamboo.
Bungkusan ini akan dibagikan kepada masyarakat ketika perayaan maulid tiba. Siapa yang mendapatkan paling banyak, akan banyak pula berkahnya. Esoknya dimulai Panjang Jimat, yakni arak-arakan yang membawa semua benda pusaka. Prosesi inilah yang menjadi inti perayaan Maulid.
Segmen III
Suasana di keraton seolah berubah menjadi pasar rakyat. Namun tetapi menarik, melihat bagaimana warga dan kekuasaan yang dahulunya berpengaruh melebur. Ada gula ..ada semut, pepatah yang tepat untuk para pedagang yang menggelar lapaknya di sini.
Termasuk pedagang nasi jamblang, makanan khas Cirebon yang biasa membuka tenda di pinggiran jalan. Tidak berlebihan mengatakan bahwa rakyat sebagian besar masih menghormati keraton Kanoman.
Tradisi Maulid ini menjadi kesempatan emas untuk bertemu dengan raja kharismatik ini, yakni sultan kedua belas, Raja Muhammad Emiruddin, yang naik tahta 2003.
Ia memimpin keraton yang pada abad kelima belas sangat disegani dan berpengaruh di Jawa Barat. Dari rakyat untuk sultan. Begitu sebaliknya, adalah bentuk kepedulian sebagian rakyat Cirebon. Kepedulian itu justru yang membuat Keraton Kanoman Cirebon hingga kini masih tetap bertahan.
Kaum wanita sibuk membuat wewangian dari aneka macam bunga yang harum yang akan mereka taburkan di setiap piring besar saat arak-arakan panjang jimat. Sementara keluarga dan abdi dalem akan bersiap - siap membawa benda pusaka dan makanan ke sultan untuk meminta restu. Menarik..., peringatan ini seolah menghadirkan kembali kejayaan keraton ini pada masa lampau.
Sultan kemudian memberikan restu untuk memulai prosesi panjang jimat. Panjang jimat merupakan puncak peringatan Maulid nabi. Perpaduan Islam dan tradisi setempat sangat terasa.
Prosesi bergerak dari keraton menuju masjid agung peninggalan Sunan Gunung Jati lima abad yang lalu dan berlangsung dengan khidmat. Semua warga berhenti melakukan kegiatannya. Prosesi berakhir di tempat ini.
Patih dan semua sesepuh membacakan kitab barjanji yang berisi sejarah nabi agar masyarakat mau mencontoh kebajikan yang dilakukan nabi semasa hidupnya. Masyarakat diluar setia menunggunya hingga larut malam dengan harapan kebagian makanan sesaji atau uang kepingan.
Peringatan Maulid berakhir. Entah sudah yang keberapa kalinya. Keraton Kanoman sudah menggelar tradisi ini semenjak Sunan pertama kali menyebarkan ajaran Islam di Jawa Barat sekitar lima ratus tahun yang lalu.
Tradisi ini menjadi saksi dari sejarah yang panjang sebuah kerajaan disegani dan sangat berpengaruh pada waktu itu. Oleh karena itu keraton harus tetap bertahan, kendati tidak mudah di jaman yang berubah begitu cepat.(Her)
Sumber :http://www.indosiar.com