Tampilkan postingan dengan label Tentang Tari Topeng Cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Tari Topeng Cirebon. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2008

Fase Kehidupan Sujana Arja

www.cirebonkotaku.blogspot.com
Sanggar tari topeng di Desa Slangit, Kecamatan
Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, itu bernama Panji
Asmara. Luasnya sekitar seperempat hektar. Dindingnya
belum diplester.

Sanggar itu terdiri dari empat kamar, yaitu ruang
tamu, ruang tidur, kamar mandi, dan ruang penyimpanan
gamelan, dengan lantai semen yang retak di beberapa
bagian. Sementara di bagian depan terdapat pendopo
berlantai keramik putih yang biasanya digunakan untuk
latihan tari.

Pada dinding terpasang puluhan piagam penghargaan seni
tari yang sebagian di antaranya berjamur dan kusam. Di
situ tertulis, ”Diberikan pada Sujana Arja Atas
Perhatiannya Pada Kesenian Tari Topeng”.

Panji Asmara artinya lebih kurang ”lambang
kesejahteraan”. Hanya saja, meski usianya sudah
belasan tahun, kesejahteraan itu belum juga mengena
kepada si empunya sanggar, Sujana Arja.

Sehari-hari ia hidup dari bantuan anaknya dan pinjaman
uang tetangga. Menurut ia, sekarang ia dan
rombongannya tidak bisa mengandalkan hidup dari pentas
tari topeng saja. Pentas paling dua kali dalam
setahun.

”Setiap kali pentas, saya pasang tarif Rp 30 juta.
Hasil itu saya bagi dengan sekitar 30 pemain, dari
dalang, penabuh gamelan, hingga penari tambahan,”
katanya ketika ditemui di rumahnya, akhir Juli lalu.

Jangankan untuk membeli kostum tambahan, untuk makan
saja susah. Sehari-hari saya cuma nganggur, tidak
punya dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Saya
sering sedih dan menangis bila melihat keadaan saya
seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, saya harus
menerima semuanya, kata Sujana pasrah.

Keliling kampung

Tari topeng adalah satu-satunya warisan orangtuanya
yang tersisa. Mulai umur delapan tahun, ia sudah
diajari ayahnya untuk menekuni tari topeng dengan
harapan dapat dibawa keliling kampung untuk bebarang
(mengamen tari topeng). Dua tahun digembleng ayahnya,
Sujana kecil mulai mengikuti rombongan kesenian
ayahnya untuk menari di sekitar tempat tinggalnya di
Desa Slangit. Ada lima urutan tari topeng yang harus
dipelajarinya. Berturut-turut adalah panji, samba,
rumyang, tumenggung, dan kelana.

Lima babak itu biasanya dibawakan dalam satu jam.
Jadi, kalau keliling kampung bisa 10 hari kalau beres.
Satu kali tampil dibayar dengan cara bakdeng, satu
babak satu bedeng padi. Satu bedeng sekitar 8-10
kilogram padi, katanya.

Panji melambangkan kelahiran seorang manusia ke dunia.
Samba melambangkan bayi yang telah beranjak dewasa.
Rumyang melambangkan pernikahan yang ditujukan untuk
menghasilkan keturunan yang baik. Tumenggung
melambangkan kewajiban seseorang yang menikah untuk
bekerja sebagai bekal bagi keluarga. Kelana adalah
kontrol yang harus dimiliki orang itu agar tidak
sombong dalam menghadapi hidup.

Belajarnya harus berurutan, tidak boleh loncat-loncat,
karena ada pesan filosofisnya. Pasalnya, seni tari
topeng awalnya merupakan sarana dakwah para wali di
Cirebon untuk menyebarkan agama Islam, katanya.

Kepiawaiannya mulai dikenal masyarakat ketika ia
berumur 12 tahun. Daerah tampilannya meluas hingga
Cirebon dan akhirnya dikenal hingga tingkat nasional.
Dengan pesat, namanya pun tercatat sebagai maestro
seni tari, khususnya tari topeng Cirebon.

Alhasil, pertunjukan ke berbagai negara juga sering
dilakoninya mewakili Indonesia. Tercatat negara
seperti Australia, Amerika Serikat, Swiss, Belanda,
Jerman, dan Jepang merupakan negara yang pernah ia
kunjungi. Muridnya pun tidak sebatas dalam negeri, 32
muridnya tersebar di beberapa negara yang pernah ia
kunjungi itu.

Jangan punah

Keinginan orangtuanya untuk terus melestarikan tari
topeng diturunkan kepada dua anak laki-lakinya, Inu
Kertapati dan Astori. Sama seperti Sujana, nama Inu
Kertapati telah dikenal ke mancanegara melalui tari
topeng. Terakhir, tahun 2004, Inu dikirim ke Taiwan
mewakili Indonesia dalam pertukaran seni budaya.

Sekarang kalau ada undangan untuk tampil, Inu sering
menggantikan saya karena saya sudah tidak kuat lagi
untuk menari, katanya.

Akan tetapi, ia mengakui, warisan itu tidak cukup bila
hanya ia berikan kepada anaknya. Lama-kelamaan tari
topeng akan punah bila hanya segelintir orang yang
mengetahuinya. Ia melihat lingkungannya, beberapa
teman seperjuangannya, seperti tari topeng versi
Palimanan, versi Gegesik, dan versi Losari, sudah di
ambang kepunahan.

Kalau bisa, saya titipkan kesenian tari topeng yang
masih tersisa ini pada generasi selanjutnya agar di
kemudian hari tidak punah. Sebab, saya yakin dari
topeng kita bisa belajar apa yang disebut dengan fase
kehidupan, kata Sujana. (D01
ttp://fossplanet.com

Oleh Ida Rosdalina Jakarta – Awal Agustus 2008 sebuah pertunjukan tari tradisional dirancang untuk digelar di sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta

www.cirebonkotaku.blogspot.com

Oleh
Ida Rosdalina

Jakarta – Awal Agustus 2008 sebuah pertunjukan tari tradisional dirancang untuk digelar di sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta.

Ini bukan sebuah pemandangan lazim karena biasanya tari-tarian tradisi hanyalah tontonan dalam gedung-gedung usang yang sudah ditinggal penikmatnya.
Namun kali ini, Gelar bersama Bimasena mengangkat pertunjukan tradisi menjadi tontonan yang berkelas. Harga tiket tidak tanggung-tanggung, Rp 1 juta. Bagi Bimasena, sebuah perkumpulan masyarakat pertambangan dan energi, mementaskan pertunjukan tradisi semacam ini bukan hal baru.
“The Mask sesuai dengan program budaya kami, yaitu mengangkat seniman-seniman Indonesia dan membantu melestarikan budaya Indonesia untuk anak-cucu,” kata Tini Hadju-Malayu, Assistant Managing Director Bimasena.
Pementasan yang diproduseri oleh Bram dan Kumoratih Kushardjanto ini akan menampilkan Topeng Kedok Tiga Betawi, Topeng Pajegan dari Bali, dan Wayang Topeng Yogyakarta.
Mengapa Topeng? Menurut Deddy Luthan, seorang koreografer yang menjadi penata artistik pertunjukan ini, topeng adalah sebuah fenomena dalam kesenian Indonesia. “Hampir 80 persen Kesenian di Indonesia menggunakan topeng sebagai sarana berekspresi,” kata Deddy, beberapa waktu lalu.
Topeng merupakan hasil budaya yang sama tuanya dengan pembuatnya. Fungsi topeng pun bermacam-macam. Di Jawa Barat, ada topeng yang terbuat dari emas untuk menutupi wajah orang yang meninggal. Kepopuleran topeng dalam budaya Indonesia memiliki berbagai alasan. Topeng menampilkan karakter, sebagai tiruan wajah. “Topeng juga merupakan pemalsuan diri, di mana ketika menari topeng, orang tidak lagi mewakili diri sendiri, melainkan menjadi orang lain,” kata Deddy.
Tokoh dalam topeng tidak terbatas pada manusia, melainkan juga dari alam lain. Untuk menandai sifat karakter yang dibawakannya, topeng dibuat dalam berbagai warna.
Dalam beberapa kebudayaan, topeng memiliki fungsi keagamaan. Dalam fungsinya ini, topeng mewujudkan konsep-konsep agama, berhubungan dengan kekuatan gaib tertentu.
Dari fungsi keagamaan, fungsi topeng bergeser menjadi estetika karena kehidupan berubah. Topeng hampir punah karena ada perubahan-perubahan dalam masyarakat. Tari-tarian Topeng kini lebih bersifat profan. “Ketika menjadi hiburan, yang lebih ditekankan adalah bagaimana pertunjukannya. Bagaimana gerak, musik dan bentuknya,” kata Deddy.
Namun, seperti pertunjukan tradisi lain, topeng pun mengalami pasang surut. Pertunjukan topeng saat ini ada di titik rawan. Penyebabnya, sudah banyak maestro tari topeng yang meninggal dan tidak banyak orang yang meneruskannya.

Unsur Serapan
Salah satu yang akan tampil dalam pertunjukan bertajuk “The Mask of the Maestro” adalah Kartini. Seniman ini akan menampilkan Tari Kedok Tiga Betawi. Dalam kebudayaan Betawi, topeng tidak menjadi bagian dari keagamaan. “Betawi tidak punya tradisi topeng,” kata Kartini.
Namun, nama topeng digunakan untuk menyebut teater Betawi yang memiliki alur cerita.
Tari Kedok Tiga ini diciptakan oleh Mak Kinong, nenek Kartini, pada tahun 1930-an. Karena tidak memiliki tradisi, tari topeng atau kedok (dalam bahasa Betawi) menyerap banyak unsur topeng dari Cirebon.
Ada tiga karakter dalam tiga warna dalam tarian ini. Topeng putih melambangkan kelembutan sekaligus sebagai tarian untuk menyambut penonton. Kemudian, penari menggunakan topeng berwarna merah muda dengan gerakan yang lebih atraktif dan karakter yang beringas dan kasar diwakili dengan topeng berwarna merah. Semuanya ditampilkan oleh satu penari.
Namun, baru tiga generasi, tari ini sudah mulai langka. Menurut Kartini, tarian ini biasanya dipanggungkan dalam acara khitanan, upacara haul, dan penolak bala. “Ini pertama kali saya tampil di gedung yang mewah,” kata Kartini sambil tertawa.
Selain Tari Kedok Tiga Betawi, dua tari lainnya berasal dari Yogyakarta dan Bali. Wayang Topeng Gaya Yogyakarta ditarikan oleh Lantip Kuswala Daya. Seperti juga tari Kedok Tiga Betawi, wayang topeng asal Yogyakarta ini tidak berkaitan dengan fungsi keagamaan. Tari Topeng Klana klasik ini diciptakan dari kalangan Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Namun, beberapa master tari Yogyakarta, seperti Bagong Kussudiardjo dan Romo Sas telah membuat perubahan pada gerak dan tempo sehingga lebih ekspresif dan lebih cepat.
Sayangnya, kepopuleran Tari Topeng Klana Yogyakarta ini kalah dibanding jenis Tari Topeng Klana dari Surakarta.
Dari Bali, akan tampil maestro tari I Made Djimat dengan Topeng Pajegan. Di antara ketiga tari topeng yang akan dipanggungkan, Topeng Pajegan satu-satunya yang memiliki fungsi keagamaan.
Tari ini adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai puncak dari ritual itu. Oleh karena itu, penari Topeng Pajegan adalah orang yang memiliki tingkatan spiritual tinggi. Dalam tarian ini, penari harus mampu menarikan peran apa saja yang diwakili dalam berbagai bentuk topeng. n







Copyright © Sinar Harapan 2008

“The Mask of the Maestro” Mengetengahkan Tari Topeng yang Terpinggirkan

www.cirebonkotaku.blogspot.com

Oleh
Ida Rosdalina

Jakarta – Awal Agustus 2008 sebuah pertunjukan tari tradisional dirancang untuk digelar di sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta.

Ini bukan sebuah pemandangan lazim karena biasanya tari-tarian tradisi hanyalah tontonan dalam gedung-gedung usang yang sudah ditinggal penikmatnya.
Namun kali ini, Gelar bersama Bimasena mengangkat pertunjukan tradisi menjadi tontonan yang berkelas. Harga tiket tidak tanggung-tanggung, Rp 1 juta. Bagi Bimasena, sebuah perkumpulan masyarakat pertambangan dan energi, mementaskan pertunjukan tradisi semacam ini bukan hal baru.
“The Mask sesuai dengan program budaya kami, yaitu mengangkat seniman-seniman Indonesia dan membantu melestarikan budaya Indonesia untuk anak-cucu,” kata Tini Hadju-Malayu, Assistant Managing Director Bimasena.
Pementasan yang diproduseri oleh Bram dan Kumoratih Kushardjanto ini akan menampilkan Topeng Kedok Tiga Betawi, Topeng Pajegan dari Bali, dan Wayang Topeng Yogyakarta.
Mengapa Topeng? Menurut Deddy Luthan, seorang koreografer yang menjadi penata artistik pertunjukan ini, topeng adalah sebuah fenomena dalam kesenian Indonesia. “Hampir 80 persen Kesenian di Indonesia menggunakan topeng sebagai sarana berekspresi,” kata Deddy, beberapa waktu lalu.
Topeng merupakan hasil budaya yang sama tuanya dengan pembuatnya. Fungsi topeng pun bermacam-macam. Di Jawa Barat, ada topeng yang terbuat dari emas untuk menutupi wajah orang yang meninggal. Kepopuleran topeng dalam budaya Indonesia memiliki berbagai alasan. Topeng menampilkan karakter, sebagai tiruan wajah. “Topeng juga merupakan pemalsuan diri, di mana ketika menari topeng, orang tidak lagi mewakili diri sendiri, melainkan menjadi orang lain,” kata Deddy.
Tokoh dalam topeng tidak terbatas pada manusia, melainkan juga dari alam lain. Untuk menandai sifat karakter yang dibawakannya, topeng dibuat dalam berbagai warna.
Dalam beberapa kebudayaan, topeng memiliki fungsi keagamaan. Dalam fungsinya ini, topeng mewujudkan konsep-konsep agama, berhubungan dengan kekuatan gaib tertentu.
Dari fungsi keagamaan, fungsi topeng bergeser menjadi estetika karena kehidupan berubah. Topeng hampir punah karena ada perubahan-perubahan dalam masyarakat. Tari-tarian Topeng kini lebih bersifat profan. “Ketika menjadi hiburan, yang lebih ditekankan adalah bagaimana pertunjukannya. Bagaimana gerak, musik dan bentuknya,” kata Deddy.
Namun, seperti pertunjukan tradisi lain, topeng pun mengalami pasang surut. Pertunjukan topeng saat ini ada di titik rawan. Penyebabnya, sudah banyak maestro tari topeng yang meninggal dan tidak banyak orang yang meneruskannya.

Unsur Serapan
Salah satu yang akan tampil dalam pertunjukan bertajuk “The Mask of the Maestro” adalah Kartini. Seniman ini akan menampilkan Tari Kedok Tiga Betawi. Dalam kebudayaan Betawi, topeng tidak menjadi bagian dari keagamaan. “Betawi tidak punya tradisi topeng,” kata Kartini.
Namun, nama topeng digunakan untuk menyebut teater Betawi yang memiliki alur cerita.
Tari Kedok Tiga ini diciptakan oleh Mak Kinong, nenek Kartini, pada tahun 1930-an. Karena tidak memiliki tradisi, tari topeng atau kedok (dalam bahasa Betawi) menyerap banyak unsur topeng dari Cirebon.
Ada tiga karakter dalam tiga warna dalam tarian ini. Topeng putih melambangkan kelembutan sekaligus sebagai tarian untuk menyambut penonton. Kemudian, penari menggunakan topeng berwarna merah muda dengan gerakan yang lebih atraktif dan karakter yang beringas dan kasar diwakili dengan topeng berwarna merah. Semuanya ditampilkan oleh satu penari.
Namun, baru tiga generasi, tari ini sudah mulai langka. Menurut Kartini, tarian ini biasanya dipanggungkan dalam acara khitanan, upacara haul, dan penolak bala. “Ini pertama kali saya tampil di gedung yang mewah,” kata Kartini sambil tertawa.
Selain Tari Kedok Tiga Betawi, dua tari lainnya berasal dari Yogyakarta dan Bali. Wayang Topeng Gaya Yogyakarta ditarikan oleh Lantip Kuswala Daya. Seperti juga tari Kedok Tiga Betawi, wayang topeng asal Yogyakarta ini tidak berkaitan dengan fungsi keagamaan. Tari Topeng Klana klasik ini diciptakan dari kalangan Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Namun, beberapa master tari Yogyakarta, seperti Bagong Kussudiardjo dan Romo Sas telah membuat perubahan pada gerak dan tempo sehingga lebih ekspresif dan lebih cepat.
Sayangnya, kepopuleran Tari Topeng Klana Yogyakarta ini kalah dibanding jenis Tari Topeng Klana dari Surakarta.
Dari Bali, akan tampil maestro tari I Made Djimat dengan Topeng Pajegan. Di antara ketiga tari topeng yang akan dipanggungkan, Topeng Pajegan satu-satunya yang memiliki fungsi keagamaan.
Tari ini adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai puncak dari ritual itu. Oleh karena itu, penari Topeng Pajegan adalah orang yang memiliki tingkatan spiritual tinggi. Dalam tarian ini, penari harus mampu menarikan peran apa saja yang diwakili dalam berbagai bentuk topeng. n







Copyright © Sinar Harapan 2008

Rasinah Hidupi Tari Topeng Indramayu

www.cirebonkotaku.blogspot.com
By langitperempuan on Juli 19th, 2008

Rasinah, sumber foto http://ejavanica.blogspot.com(etnofilm) ~ Mimi Rasinah adalah seorang Penari Topeng Indramayu ternama. Bahkan, namanya pun sudah dimasukkan dalam kategori maestro. Perempuan berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradisional itu. Ia bukan hanya menari dengan topeng-topeng yang selalu berganti di wajahnya. Tapi, ia juga menyebarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai Tari Topeng Indramayu.

Rasinah lahir di Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat. Kedua orangtuanya juga seniman. Karena itu, darah seni pun menucur deras di dalam nadinya. Sejak kecil ia telah diajari menari lengkap dengan aturan-aturan “mistis”nya. Bahkan, ia pun telah “diamenkan” di panggung-panggung hajatan (bebarang), untuk menegaskan suratan hidupnya yang seniman.

Masa kanak-kanak dan remaja Rasinah hanyalah tarian. Gejolak hidup Rasinah muda hanyalah panggung-panggung hajatan, lengkap dengan suara tetabuhannya. Sehingga, di luar Tari Topeng Indramayu, sungguh ia bukanlah apa-apa. Seperti pelantun lagu Gambang Kromong klasik, Masnah, ia pun cerminan “anak wayang” yang sepanjang hidupnya lebih diberikan untuk panggung dan penonton. Ia sama sekali tidak mengenal hal lain di luar dunia tersebut. Sekolah atau menikmati keceriaan seperti kaum remaja sebayanya.

rasinah, sumber foto kapasmerahKeteguhan Rasinah untuk terus konsisten di jalurnya bukan tidak dihadang masalah. Pergeseran selera masyarakat dari kesenian tradisional ke kesenian yang lebih modern membuat Rasinah – dan seniman tradisional pada umumnya – terkena imbas besar. Mereka kehilangan panggung-panggung hajatan, lahan untuk mengekspresikan kesenimanannya, dan tentu saja, nafkah!

Masa-masa sulit seperti itu dirasakan benar oleh Rasinah. Terlebih setelah ayah dan ibunya meninggal. Ia memang anak tunggal. Sehingga, ia harus menggantungkan hidupnya pada sang suami. Ia nyaris tidak memiliki kesempatan untuk menari. Lantaran tidak ada lagi yang mengundangnya.

Dalam kesendirian dan keterasingan, ia hanya memasrahkan hidupnya pada Yang Mahaperkasa. Ia tidak berani lagi menghitung-hitung suratan nasib di depannya. Karena, ia sadar bahwa ia hanyalah seniman tradisional, plus dengan kemampuan yang terbatas. Untuk beralih pada sumber penghidupan yang lain, ia juga merasa tidak bisa. Maka, ia pun hanya bisa menari di rumahnya sendiri. Kerap, ia menari ditemani cucunya, Aerli. Dan, dengan sisa gendang, saron, dan gong, dari ayahnya, ia juga coba ajarkan pada cucunya yang Edi. Saat itu, ia mencoba menitiskan kemampuan berkeniannya kepada kedua cucunya.

Cara itu ditempuh oleh Rasinah, agar ia tetap memiliki semangat untuk menari. Di benaknya hanya terlintas satu niat, agar hidup yang pahit itu bisa dijalani dengan keceriaan sambil membagi-baginya kepada orang terdekat. Tari Topeng Indramayu adalah satu-satunya harta karun yang dimilikinya. Sehingga, hanya dengan “benda” itulah ia bisa mewariskannya kepada keturunannya.

Bangunan semangat untuk bertahan dan berbagi, serta kepasrahan untuk menyerahkan segala-galanya kepada Dzat Yang Mahasempurna, akhirnya berbuah kebahagiaan. Ketabahan dan kegigihan untuk terus berkesenian secara bersahaja membuahkan perhatian pihak lain. Ia percaya bahwa orang yang tiba-tiba memedulikan dirinya dan Tari Topeng Indramayunya adalah tangan-tangan Tuhan. Ya, cerminan sifat rahman dan rahimNya.

Minat kalangan pemerhati kesenian tersebut yang bertekad merevitalisasi kesenian Tari Topeng Indramayu menebarkan manisnya juga untuk Rasinah. Ia pun diminta untuk menari di berbagai tempat. Bukan sekedar panggung-panggung hajatan di kampung-kampung. Tapi, termasuk juga pentas-pentas di gedung-gedung kesenian di kota besar, di dalam dan luar negeri. Luar biasa!

Gubuk yang tadinya nyaris runtuh karena tidak pernah mendapat perhatian, perlahan-lahan ia bangun kembali. Bahkan, ia pun berhasil membangun sanggar sederhana di salah satu sudut rumahnya. Teman berlatihnya pun bukan hanya Aerli, cucunya. Tapi, anak-anak lain berdatangan untuk meminta juga “harta karun” yang dimiliknya. Seiring dengan itu, panggilan-panggilan untuk menari pun tidak pernah lagi berhenti.

Maka, Rasinah yang oleh murid-muridnya dipanggil Mimi (nenek) telah mendapati kegemilangan nan tiara di hari tuanya. Ia bisa tersenyum bahagia saat meyakini bahwa keteguhannya mendalami Tari Topeng Indramayu membuahkan panen besar. Ia bisa tertawa gembira saat mensyukuri bahwa kesungguhan mengawal kesenian tradisional itu memberikan manfaat tak terhingga. Sehingga, ia pun bisa melupakan kepahitan dan rintangan yang selama menempa perjalanan berkesenianannya dan kehidupan nyatanya.

Kita bisa mengatakan apa yang terjadi pada Mimi Rasinah karena keterpaksaan. Ia terpaksa bertahan dengan kemiskinan dan kepapaannya sebagai seniman tradisional, karena ia tidak memiliki kemampuan lain. Ia terus menekenuni Tari Topeng Indramayu karena tidak ada pilihan lain. Pendapat itu tidak salah. Sama sekali tidak salah.
Tapi, fakta juga berbicara, dengan kemiskinan dan kepapaan itu justru ia terus menari. Padahal ia tidak lagi mendapat panggilan dan memiliki panggung tetap. Ia menari untuk dirinya sendiri dan di “panggung” yang teramat sempit di dalam gubuknya. Ia juga menari sambil membagi “kesenimannya” pada orang terdekat. Kedua hal itu merupakan pertanda kesungguhan untuk mempertahankan hidup dan terus berbagi.

Rasinah laksana setangkai suket (rumput). Suket tidak menyesali kemiskinan, kepapaan, dan kenyataan diri, yang memang berada di bawah. Ia terus bersemangat, bersungguh-sungguh, dan tabah, untuk memulai mengisi pagi. Bahkan, dengan “panggung” yang teramat sederhana, ia terus “berkesenian”. Dan, dengan suka-cita, rona hijau ditebarkan ke sekelilingnya. Ia bertahan dan memberi. Sebuah ajaran cinta terdalam, yang tidak lagi berpikir tentang keberadaan diri dan imbalan atas penebaran cinta itu sendiri.

Yang dilakukan Rasinah saat persoalan-persoalan hidup memburunya tanpa henti adalah memasrahkannya kepada Yang Mahamemberi. Keluh-kesah, penyesalan, putus asa, apatis menghadapi hidup, justru hanya akan menyurut semangat bertahan dan kesungguhan memberi. Sehingga, tanpa proklamasi dan pengumuman yang berlebih, ia memang menunjukkan kebangkitannya sebagai khalifah. Tanpa berpikir tentang hakekat hijrah nurani yang sering diungkap oleh Kalangan Sufi, ia justru telah melakukannya dengan istiqomah.

Kebangkitan itu sendiri tidak identik dengan pelarian atas kepungan masalah atau kemadekan karier. Tapi, “pribadi nan tercerahkan” adalah pilihan lain dari hidup ini. Siapa pun boleh hidup dengan pilihan apanya masing-masing. Entah terus menjunjungi semangat mimpi, keinginan, cita-cita, dan ambisi, untuk meraih kebahagiaan duniawi. Atau, mencoba meraih target kebahagiaan di alam lain. Terserah saja.

Yang pasti, Rasinah telah memperlihatkan contoh menarik, untuk memilih pilihan yang lain. Sebuah target, yang bisa jadi, tidak lazim dan tidak popular. Tapi, bila hal itu bisa menenangkan batin, sekaligus mampu membangkitkan semangat, kesungguhan, ketekunan, dan kegigihan, untuk mendapati hidup itu sendiri, serta menikmatinya dengan penuh kemenangan.

Di usia senjanya sekarang, Rasinah nyaris tak bisa lagi menggerakkan tangan, menghentakkan kaki, dan memancangkan topeng di wajahnya. Bahkan, serangan stroke memaksanya untuk bolak-balik ke rumahsakit. Tragisnya, karena ketiadaan biaya, keluarganya sampai berkeinginan menjual topeng-topengnya. Satu-satunya keperkasaan yang masih ditorehkan seorang Rasinah, di tengah ketidakberdayaannya, ialah ketetapan hatinya memaksakan diri untuk mengawasi murid-muridnya setiap kali berlatih menari. Subhanallah.

“Yang membuat kami terharu dan yang paling berkesan, ia pernah mengatakan bahwa ia akan mati di atas panggung,” tutur salah seorang cucunya Edi Suryadi dalam film dokumenter “dua Perempuan” produksi Matahati Productions, 2007, yang mengangkat cerita tentang Rasinah dan Masnah, penyanyi Gambang Kromong terkemuka. (sumber: etnofilm.wordpress.com | Mei 2008)

Maestro Tari Topeng Menderita Lumpuh

www.cirebonkotaku.blogspot.com
Cirebon (ANTARA News) - Mimi Rasinah (80), mestro topeng Cirebon, sudah lebih dua tahun mengalami lumpuh sebelah tubuhnya akibat stroke dan kini hanya terbaring lemah di rumahnya di Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu.

"Mimi Rasinah sangat perlu uluran tangan dermawan karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Satu-satunya yang bisa dilakukan untuk dapat uang adalah dengan melelang topeng dan benda-benda pusaka milik Mimi," kata Ade Jayana (27), suami Erli Rasiah (22), cucu Mimi Rasinah kepada wartawan di Indramayu, Selasa.

Ia mengungkapkan, Mimi menghabiskan hidupnya demi pengembangan tari topeng, bahkan saat terkena stroke pertama Desember tahun 2006, juga disebebkan karena kelelahan setelah pulang mengajar tari topeng di salah satu SMA di Indramayu.

"Karena kekelahan, Mimi terjatuh setelah mengambil air wudlu. Sampai sekarang, sudah dua tahun hanya berbaring saja," kata Ade, lulusan STSI Bandung.

Selanjutnya Erli menjelaskan, saat ini dia meneruskan kegiatan latihan tari topeng di sanggar tari "Mimi Rasinah" di rumahnya di Ds Pekandangan, Kec Indramayu.

"Mimi minta latihan tari terus jalan, dan banyak murid yang masih terus berlatih sampai sekarang," katanya.

Ia juga mengungkapkan, dirinya menunggu janji Pemkab Indramayu untuk mengganti biaya penampilan Grup Tari Topeng Mimi Rasinah di Gedung Sangkuriang Bandung pertengahan Januari 2008 lalu, karena saat itu biaya ditanggung oleh keluarganya.

"Saat itu saya tampil mewakili Indramayu. Biaya kami tanggung dulu, soalnya Pemkab janji akan mengganti biaya pementasan. Namun sampai sekarang belum ada kejelasan, padahal kami sangat membutuhkan uang," katanya.

Karena terdesak kebutuhan obat-obatan itu, dua topeng kebanggaan Mimi Rasinah yaitu Topeng Kelana Dursasana dan Topeng Kelana Gandrung, akan dilelang untuk mendapatkan uang.

"Mimi juga akan melelang dua uang benggol warisan dari ayahnya yang dulu sempat ditawar orang eropa sampai Rp 10 juta," katanya yang berharap ada uluran tangan dari Pemerintah.

Mimi rasinah sejak tahun 1990 sudah berkelana untuk pentas tari topeng ke luar negeri antara lain di Jepang, Belanda dan sejumlah negara lainnya.

Mimi Rasinah yang lahir di Indramayu 3 Februari 1930 itu sekarang merupakan satu-satunya maestro topeng yang tersisa setelah wafatnya Sawitri, maestro topeng asal Losari, Cirebon, tahun 1999.

Sejak kecil Mimi Rasinah sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan oleh ayahnya, dan keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian ini dibuktikan dengan profesinya sebagai penari topeng yang tetap mempertahankan tradisionalitas, sehingga banyak yang menyebutnya klasik.

Di seputar Cirebon, karakter tari topeng mempunyai macam dan bentuknya, seperti wilayah Timur Cirebon tepatnya di Desa Astanalanggar dengan tokohnya Dewi dan Sawitri yang dua-duanya sudah wafat.

Di sebelah Barat terdapat di Palimanan, Cirebon dengan tokohnya Wentar, Koncar, Ami, Dasih dan Suji. Juga di Desa Slangit, Klangenan, Kabupaten Cirebon ada juga maestro yang dulu berjaya antara lain Sutejo, Suparta, Sujaya, Sujana, dan Keni.

Saat ini tari topeng tidak lagi menjadi seni pertunjukan pada acara hajatan seperti pernikahan atau sunatan karena perannya sudah tergeser oleh organ tunggal yang dianggap lebih moderen.(*)